Senin, 22 Oktober 2012

Gagasan dan Pandangan Ki Hajar Dewantara Tentang Dunia Pendidikan Di Indonesia

Kegiatan Belajar Menagajar
Dalam dunia pendidikan Indonesia nama Ki Hajar Dewantara sudah tidak asing lagi, seorang pendidik asli Indonesia yang menagabdikan dirinya terhadap pendidikan di Indonesia. Sebuah pemikiran cerdas Ki Hajar Dewantara untuk mendirikan sekolah taman siswa, jauh sebelum Indonesia mengenal arti kemerdekaan. Pemikiran dan konsep Taman Siswa oleh seorang Ki Hajar Dewantara adalah jawaban untuk menyikapi kegelisahan bangsa Indonesia saat itu terhadap kondisi pendidikan yang berlangsung. Solusi atas kegelisahan itu digambarkan dalam asas dan dasar yang diterapkan Taman Siswa, Orientasi Asas dan Dasar Taman Siswa dari Ki Hajar Dewantara tahun 1922 diupayakan sebagai asas perjuangan yang diperlukan pada waktu itu yang memuat 7 pasal, secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut.

Pasal 1 dan 2 mengandung Dasar Kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Bila diterapkan kepada pelaksanaan pengajaran maka hal itu merupakan upaya di dalam mendidik murid-murid supaya dapat berperasaan, berpikiran dan bekerja merdeka demi pencapaian tujuannya. Pasal 1 juga menerangkan perlunya kemajuan sejati untuk diperoleh dalam perkembangan kodrati, Hak mengatur diri sendiri berdiri, bersama dengan tertib dan damai dan bertumbuh menurut kodrat.Ketiga hal ini merupakan dasar alat pendidikan bagi anak-anak yang salah satu seginya ialah mewajibkan guru-guru sebagai pemimpin yang berdiri di belakang tetapi mempengaruhi dengan memberi kesempatan anak didik untuk berjalan sendiri. Inilah yang disebut dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”.




Pasal ke-3 menyinggung masalah kepentingan sosial, ekonomi dan politikkecenderungan dari bangsa kita untuk menyesuaikan diri dengan hidup dan penghidupan ke barat-baratan telah menimbulkan kekacauan. Sistem pengajaran yang terlampau memikirkan kecerdasan pikiran yang melanggar dasar-dasar kodrati yag terdapat dalam kebudayaan sendiri. Pasal ke-4 menyangkut tentang dasar kerakyatan untuk memepertinggi pengajaran yang dianggap perlu dengan memperluas pengajarannya. Pasal ke-5 memiliki pokok asas untuk percaya kepada kekuatan sendiri. Pasal ke-6 berisi persyarat dalam keharusan untuk membelanjai sendiri segala usaha Taman Siswa. pasal terakhir yaitu pasal ke-7 mengharuskan adanya keikhlasan lahir-batin bagi guru-guru untuk mendekati anak didiknya.

Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Namun kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin. Sedangkan maksud pendirian Taman Siswa adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan pada aspek-aspek nasional. Landasan filosofisnya adalah nasionalistik dan universalistik.

Dari titik pandang sosio-anthropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang mendidik itu sendiri yang berarti mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia. Dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi antar manusia. Jadi arti pendidikan bangsa Indonesia itu sendiri adalah usaha bangsa ini membawa rakyat/manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual dan terkini. Ki Hajar Dewantara mempunyai pemikiran tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah pendidikan memanusiawikan manusia. Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang mamanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.

Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Ki Hajar Dewantara sendiri dengan mengubah namanya ingin menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara.

Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik adalah fungsinya sebagai figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Oleh karena itu, nama Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

Pengajar yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator) dalam hubungan komunikasi dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah, dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait) yang mempunyai sikap profesional. Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain ialah keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu menjunjung tinggi pekerjaan, menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam hal penampilan seorang professional juga sangat penting baik secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator.

Tulisan-tulisan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan dan kebudayaan dikumpulkan dan diterbitkan oleh Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa dalam buku Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian I Pendidikan (1962) dan Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian II: Kebudayaan (1967). Kepiawaian dalam menulis dikarenakan beliau sejak muda aktif menjadi penulis dan wartawan. Ketiga, Buku Bagian I Pendidikan terbagi dalam 8 bab yaitu pendidikan nasional, politik pendidikan, pendidikan kanak-kanak, pendidikan kesenian, pendidikan keluarga, ilmu jiwa, ilmu adab dan bahasa. Buku Bagian II Kebudayaan terbagai dalam 5 bab yaitu kebudayaan umum, kebudayaan dan pendidikan/kesenian, kebudayaan dan kewanitaan, kebudayaan dan masyarakat, hubungan dan penghargaan kita. Dua buku itu adalah representasi pemikiran dan pembuktian dalam praktik pendidikan dan pengajaran di Indonesia dari Ki Hadjar Dewantara.



Sumber : dari berbagai sumber
 
;